Mendapati sebuah puisi judulnya “PERSAHABATAN”.
Orang yang tertawa dan menangis bersamamu
Sepanjang tahun selalu di sampingmu
Melindungimu dari angina dingin menjerat
Bahu tempat bersandar, lengan yang memeluk hangat
Tangan yang menangkapmu saat kau tergelincir jatuh
Telinga yang siap mendengar saat kau butuh
Orang yang bisa kau ajak menjerit dan cekikikan
Tempat berbagi rahasia dan impian
Orang yang memelukmu saat suka atau duka
Hadir saat gembira ataupun susah
Orang yang menerimamu apa adanya
Itulah tugas-tugas seorang sahabat
Michele Davis, 15 tahun
(Chicken Soup for the Preteen Soul 2)
Setelah aku membaca itu, aku sempat berpikir kalau sahabat itu gak pernah ada. Rasanya sangat mustahil sekali ada orang seperti itu. Hampir susah sekali untuk didapatkan. Masalahnya yang aku anggap sahabat tidak ada yang seperti itu. Yah, mereka cuman bilang, “karena kita sahabat, kita selalu bersama-sama” tapi artian mereka dengan ku berbeda. Sangat jauh berbeda. Tidak sama seperti puisi itu. Gila, sumpah sangat berbeda.
Saat aku membaca di bagian “Telinga yang siap mendengar saat kau butuh” bagiku itu tidak ada di mereka. Aku pernah bercerita sesuatu yang menurutku sangat penting bagiku pada mereka, mereka hanya menanggapi dengan mengangguk dan sepertinya malas untuk mendengarkan lalu mereka mengganti topik pembicaraan. Bukannya diberi nasihat ata apa gitu. Setelah saat itu, aku malas untuk bercerita dengan mereka.
Setelah itu pada kalimat “Tempat berbagi rahasia dan impian”. Aku serasa orang yang sangat terbuang saat mereka bercerita sesuatu yang sepertinya sudah lama mereka saling bercerita, ngomong di hadapanku. Atau mereka keceplosan ngomong sesuatu di depanku. Yah, sepertinya mereka tuh tidak mau aku mendengarkannya.
Pernah nih mereka bercerita tentang cowok yang gak aku kenal, trus dia ngomong ke aku “iya kan?? Oh, kamu gak tau ya..” otomatis aku hanya menggeleng. Sebenarnya aku sangat sakit hati sekali ketika salah satu sahabatku berkata seperti itu. Ih, nyucuk banget. Bahkan menurutku, itu bukan suatu rahasia. Aku pernah punya rahasia dan menceritakan kepada mereka. Tapi entahlah mereka mendengarnya atau tidak. Aku rasa sih mereka gak dengerin. Dan aku lebih suka menyimpan rahasia sendirian dan 1-2 orang yang mengetahiunya. Itu pun masih di dalam lingkungan sahabat-sahabatku. Aku punya kira-kira 10 sahabat dan saling bersahabat satu dengan yang lainnya. Salah satunya hampir sama seperti ku tapi masih mendingan dia kalo ngomong masih di dengerin. Hanya dia yang aku ajak bicara saat semuanya ngumpul.
Ada satu lagi kalimat yang tulisannya “Orang yang menerimamu apa adanya”. Gila... itu bener-bener BULLSHIT!!!! Diantara mereka, mungkin hanya aku yang tidak mempunyai ‘sesuatu’ (pokoknya yang harganya sangat mahal untuk ku beli menggunakan uangku sendiri). Mereka punya masing masing 1. mungkin mereka akan benar-benar tidak akan menerimaku kalau aku tidak punya ‘barang’ ini (diantara mereka hanya aku yang punya alias milik sendiri –bukan sih, tapi memang diperuntukkan atas namaku- dan aku sering membawanya). Harganya hanya kurang lebih dari punya mereka kok. Memang ‘barang’ itu yang menyelamatkanku dari ‘sesuatu’ itu.
Aku sangat menyayangi ‘barang’ dan aku seringkali menginginkan ‘sesuatu’. Tapi ya gitu deh. Mustahil untuk didapatkan.
Mereka seringkali meminjam ‘barang’. Aku juga pernah meminjam ‘sesuatu’ dan mereka hanya setuju jika mempunyai awal dan akhir yang sama seperti mereka. Ya sudah, mau gak mau daripada gak ada. Dalam memperlakukan ‘sesuatu’, mereka mempunyai syarat yang sama. Tapi aku yakin, tidak akan lama lagi mereka telah memiliki ‘barang’...
=======================================================
Aku dapat esai diatas *tunjuk-tunjuk atas* di folder yang sudah lama gak aku buka di laptop ku. Itu asli esai ku. Bukan karya siapa-siapa kecuali puisinya tentunya.
Hm.. Setelah teman maya *belum pernah bertatap muka* ku membacanya, dia memberiku suatu masukan yang memberiku sebuah semangat untuk tetap hidup.
"mereka belum paham artinya sahabat atau mungkin kamunya aja yang terlalu gimana. Mungkin kamu jarang hadir di saat mereka berkumpul-kumpul. Sahabat itu gak ada yang sempurna. Sahabat yang sesungguhnya ada disaat kamu perlu dia. Bahkan orang yang awalnya biasa saja sama kita bisa memperlakukan kita layaknya sahabat. Tenang saja. Sahabat itu mudah dicari kalau kamu membuat mereka merasa seperti sahabatmu."
kurang lebihnya kayak gitu. Hmm... Thnkz banget.. Mungkin kamu yang aku jadikan sahabat.. Hhohoho~~
*sepertinya ini di buat taun 2008*
0 komentar:
Posting Komentar